Seringkali, kita mencari jejak pengkhianatan melalui aroma parfum asing atau sisa abu rokok di kerah baju. Padahal, urusan hati yang mendua jauh lebih sunyi. Perselingkuhan, bagi saya, kerap bermula dari retakan-retakan kecil dalam karakter seseorang, sesuatu yang sebenarnya bisa kita baca jika kita cukup sabar untuk melihatnya. Berikut adalah renungan saya atas beberapa gejala yang mungkin patut diwaspadai:
Pertama, perhatikanlah bagaimana ia memperlakukan aturan dan tanggung jawab. Jika seseorang terbiasa hidup dengan kemudahan dan merasa bahwa hidup adalah lintasan lurus tanpa hambatan, ia mungkin menganggap norma hanya berlaku bagi orang lain.
Shirley Glass, seorang psikolog yang banyak bergulat dengan trauma perselingkuhan, pernah mengingatkan bahwa mereka yang terlalu egois jarang mampu menimbang perasaan orang lain. Jika ia selalu menyalahkan orang lain atas kegagalannya sendiri, jangan heran jika suatu saat ia akan abai terhadap luka yang ia ciptakan di hati kekasihnya, hanya karena ia merasa berhak atas segala kesenangan yang ia inginkan.
Kedua, dunia karier memang menawarkan pesona sekaligus godaan yang nyata. Kita tentu mengagumi wanita yang ambisius dan mandiri, namun kita tidak bisa menutup mata bahwa lingkungan kantor adalah tempat di mana banyak benih perselingkuhan tumbuh.
Shirley Glass mencatat bahwa kedekatan emosional sering terbangun di antara rekan kerja, terutama saat mereka berada di puncak energi terbaik mereka. Wanita dengan penghasilan tinggi, menurut studi Jan Halper, memang memiliki kecenderungan lebih besar terpapar godaan. Namun, ini bukan vonis. Selama ia tetap terbuka dan melibatkan Anda dalam kesehariannya, pekerjaan hanyalah cara untuk menata masa depan, bukan tempat untuk menyembunyikan rahasia.
Ketiga, berhati-hatilah dengan mereka yang menjadikan pesona sebagai napas keseharian. Memang menyenangkan memiliki pasangan yang memikat dan pandai mencairkan suasana di setiap pesta. Namun, ada batas tipis antara sekadar ramah dan kebutuhan untuk terus-menerus dikagumi. Seseorang yang merasa tidak lengkap tanpa tatapan memuja dari laki-laki lain sering kali menempatkan dirinya di persimpangan yang berbahaya. Perhatikanlah bagaimana ia menjaga jarak; jika ia begitu nyaman melayani perhatian dari orang asing bahkan di hadapan Anda, mungkin itulah tanda bahwa ia sedang menikmati permainan yang lebih jauh.
Terakhir, kita adalah cerminan dari lingkungan yang kita pilih. Sebuah studi menunjukkan bahwa kita cenderung meniru apa yang dilakukan oleh lingkaran terdekat kita. Jika ia dikelilingi oleh sahabat yang menganggap kesetiaan hanyalah barang usang atau justru selalu mendukung untuk menyeleweng, maka bukan tidak mungkin ia akan terpengaruh. Teman-teman yang buruk bukan saja bisa memprovokasi, tetapi mereka juga sering kali menjadi pelindung bagi kebohongan. Bagaimanapun, sebuah hubungan menuntut keseimbangan; ia harus tahu kapan harus memberikan ruang bagi teman-temannya, dan kapan ia harus kembali menetap dalam komitmen yang telah kalian bangun bersama.
syukuri apa yang ada (d’Massiv)
Nah!
astagfirullah…. mudah2an pacar ane nggak begitu, gan!

amiiiinnnnn..
makanya ane sharing artikel ini
mudah2an ente ga ngalamin, gan… cukup ane aja yang ngerasain sakitnya.